Jangan Takut Menulis
Pernah seorang teman, entah merasa iri atau memang tergelitik hatinya untuk cari tahu alasan saya aktif di sosial media.
Padahal jangan terlalu repot mencari. Alasannya sebenarnya simpel dan sederhana saja. Yang pertama saya ingin mempunyai banyak teman. Yang kedua saya juga ingin membaca atau mengetahui sambil belajar dari tulisan-tulisan yang terpampang di jagad media sosial–tulisan dari teman-teman saya.
Tulisan, sereceh apapun bagi saya tetaplah mempunyai nilai plus. Dari tulisan itu tetap bisa mengambil hikmah dan pembelajaran.
Banyak kita jumpai tulisan-tulisan yang sebenarnya cuma berisi kegabutan pemilik akun. Nulisnya ngalor-ngidul–enggak jelas.
Lalu pembelajaran apa yang bisa kita ambil dari tulisan seperti itu?
Banyak. Ya, tentu saja banyak yang akan kita dapatkan.
Pastinya kalau kita menulis kegabutan banyak menimbulkan reaksi dari pembacanya. Ada dua blok, satu blok suka dan yang satu tak suka.
Yang suka pasti akan tertawa atau sekedar memberikan emot lucu. Juga membalas di kolom komentar dengan ungkapan yang lucu dan kadang enggak jelas juga.
Yang tidak suka cuma sekedar baca kemudian meninggalkannya. Lantas kalau ada teman yang tak suka dengan tulisan kita kemudian berkomentar pedas?
Ambil hikmahnya! Berarti dia punya perhatian terhadap tulisan kita. Tuh, buktinya dia meresponnya dengan pedas.
Jika tulisan yang kita paparkan sepi pengunjung atau pembaca? Berarti kita harus koreksi lagi, mungkin ada yang salah dalam tulisan itu. Mungkin pula cara penulisannya yang buruk, isi materi yang kurang menarik atau pemaparannya yang kaku yang tak bisa mengajak pembaca dalam interaksi timbal balik.
Kalau sudah begini, itu tandanya kita harus lebih banyak lagi membaca agar mempunyai referensi bacaan yang akan menunjang tulisan kita.
Menulis Itu Mudah
Ajakan menulis itu sekarang sedang marak, terutama di jagad media sosial. Orang berbondong-bondong menulis, entah berupa cerpen, puisi, opini atau artikel atau cuma sekedar ingin mengekspresikan hati dengan tulisan-tulisan kegabutan.
Ini sebenarnya satu fenomena yang bagus. Setiap orang memang sebaiknya bisa menulis. Ya, menulis. Menulis itu bisa apa saja. Menulis bukan berarti kita harus menjadi penulis. Karena menulis itu sendiri mempunyai banyak manfaat. Namun, yang pasti dengan menulis hati kita menjadi plong karena bisa keluar dari satu beban yang menghimpit. Menulis membuat kita gembira.
Belum bisa menulis?
Jangan pesimis! Menulis itu mudah. Percaya lah! Mulailah menulis dari apa yang kita rasakan atau dari apa yang kita lihat. Terus dilatih! Kemudian juga harus lebih sering menulis agar tangan kita menjadi lebih luwes dalam membuat tulisan.
Takut diejek karena tulisan jelek?
Buang jauh-jauh pikiran itu! Tulisan kita adalah karya kita. Hargai! Kalau masalah respon pembaca, itu adalah haknya. Apapun respon dari pembaca kita harus tetap legowo menerimanya dan jadikan cambuk untuk memperbaiki diri.
Belajar Seumur Hidup
Tidak ada seorang penulis hebat. Yang ada hanyalah penulis yang terus belajar agar tulisannya bisa diterima oleh masyarakat, oleh pembaca.
Seorang penulis yang baik selalu mengusung ilmu padi, Semakin Berisi Semakin Merunduk.
Jadi tak boleh ada kata sombong dalam diri penulis. Karena tulisan itu dinamis, bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Dalam suatu masa tulisan seseorang bisa dibilang hebat tetapi pada masa selanjutnya ada lagi tulisan yang lebih bagus. Jadi benar adanya, jika Di Atas Langit Masih Ada Langit.
Jadi janganlah pernah takut menulis, karena setiap tulisan akan mempunyai pembacanya sendiri.
Tulisan Enak
Tulisan yang enak itu seperti apa? Pernah pasti kita bertanya-tanya pada tulisan yang baru kita buat.
Sebenarnya tak jauh-jauh menilai suatu tulisan bagi kita yang pemula. Setelah tulisan itu 'jadi' , cobalah baca kembali dan periksalah apakah sudah sesuai dengan niat atau tema yang kita inginkan?
Kalau sudah sesuai baca lagi. Mendapat kenikmatan kah saat kita membacanya?Sudah enak kah alur yang kita baca? Kalau sudah enak menurut kita, insyaallah pembaca pun akan enak pula membacanya.
Jadi, yang pertama jadikan diri kita sebagai kelinci percobaan. Diri kita sendiri yang menelaah tulisan kita. Setelah itu berikan tulisan itu pada orang-orang di sekitar kita. Suami, istri, anak, adik, kakak, ibu, bapak atau sahabat. Lihat respon dan komentar mereka. Kalau responnya bagus maka respon yang lain pun bisa dipastikan bagus. Namun, jika belum sesuai yang kita inginkan, itu berarti kita harus memperbaiki tulisan kita. Membaca tulisan-tulisan orang atau belajar dengan teman atau mungkin mengikuti kelas-kelas menulis yang banyak tersebar di media sosial.
Jadi, sekali lagi jangan pernah takut selama diri kita masih mau menerima masukan dari orang lain atau selama diri kita masih mau belajar.Mari tanamkan terus semangat menulis dengan niatan memberikan kebaikan bagi dunia.
Komentar
Posting Komentar